Slide Masa Lalu (Story Blog Tour OWOP)

Slide Masa Lalu

(Uni Lilis)

Story Blog Tour OWOP

Satu bulan, yah satu bulan Revan pergi, ah kenapa pula aku sesedih ini, bukankah berpisah dengannya adalah keputasan yang kami sepakati kala itu, walau pertemuan di cafe membuat slide masa-masa indah bersamanya kembali hadir bahkan sangat segar dalam ingatan, dan tak terasa air mataku jatuh, memang saat sendiri aku selalu sedih seperti ini, dan aku pun kembali mengenang saat perceraian itu akhirnya terputuskan.

Malam saat kami selesai menonton bersama, saat sifat latahnya tak juga hilang, hingga pagi itu ia mengucapkan kalimat cerai, cerai, dan cerai. Emosiku berkecamuk karena seharusnya kita tidak boleh main-main dengan  kata cerai, bahkan bercandaan cerai saja hukumnya tetap saja sah cerai, dan dia dengan kelemahannya berhasil mengucapkan kata itu.

“Astagfirullah Diba, maafin Mas, Mas tidak sengaja mengucapkan kata itu Dib.” Revan berusaha memegang tanganku, namun aku menepisnya.

“Kita sudah tidak halal lagi Mas, kenapa kita sebodoh ini mempermainkan pernikahan, bahkan mempermainkan perceraian, seharusnya kita tidak menonton film aneh itu Mas, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Mas?”

Kami terdiam lama, saling terpaku dan blank solusi.

“Assalamualaikum…”

Terdengar sapaan di luar, aku bergegas menuju pintu dan membukanya, ternyata pak RT yang kebetulan ulama di daerah tempat kami tinggal, aku mempersilahkan beliau masuk dan memanggil Revan untuk menemui beliau.

“Saya mau menyampaikan bahwa kartu sampah sudah selai Pak, dan insya Allah pengajian di masjid akan dilakukan setiap malam Jumat, Buk Diba dan Pak Revan mungkin bisa bergabung dan meliput acaranya.” Permintaan pak RT sebenarnya sederhana, dan ini kesempatan untuk bertanya masalah sepele nan berat ini.

Aku menoleh ke Revan berharap dia yang akan menjelaskannya, namun mungkin dia masih shock karena ia tidak bisa menjaga ucapannya terlalu terbawa firus tontonan talak tilu, serta sifat latahnya yang tak pernah hilang. Dengan terpaksa dan hati-hati serta sedikit malu aku menjelaskan apa yang telah terjadi di antara kami.

“Jatuhnya memang sah Pak dan Bu, sah secara agamanya cerainya, namun untuk pengesahannya bisa ke pengadilan agama untuk mendapatkan surut cerai, saya mohon maaf karena kasus ini seolah sepele namun kekuatan hukum agamanya sangat vital, jadi dengan berat saya katakan bahwa Pak Revan dan Bu Diba tidak lagi sah sebagai pasangan, tetapi rujuknya bisa dilakukan setelah satu minggu setelah sama-sama berfikir apakah memang ingin rujuk, saran saya mohon jangan pernah membercandakan pernikahan dan perceraian, hidup ini memang sebentar dan tidak salah jika kita ingin bersenang-senang tetapi alangkah baiknya tidak mempermainkannya.”

Sebenarnya panas juga telingaku mendengarkan ceramah Pak RT, namun setidaknya sebagai orang yang dituakan di sini aku menghormati dan menghargainya.

Karena tidak ada lagi cara lainnya kami sepakat untuk pisah, saling mendewasakan diri dan saling intropeksi diri, namun Revan belum mau mengesahkan talaknya ke pengadilan, dan setelah kejadian itu kami sama-sama keluar dari rumah kontrakan, memilih jalan masing-masing dan berusaha menjelaskan apa yang terjadi kepada orangtua dan keluarga masing-masing, dan Ayahku tidak terima dengan ini semua, ayah akhirnya marah dan hampir menampar wajahku di hadapan keluarga besar, sebenarnya ayah marah kepada Revan dengan sifat latahnya namun, ayah lebih memarahiku karena tidak pandai membimbing suamiku.

Setelah kejadian itu aku pergi dari rumah, merantau meningglkan semua kesalahanku walau sebelumnya aku pamit dengan baik-baik, bagitu juga dengan ibu Revan aku pamit dan meninggalkan kota ini, kata perpisahan yang kuucapkan kepadanya cukup sederhana.

“Temukan aku Mas, nanti di saat Tuhan akhirnya yakin kita siap untuk menjalin lagi pernikahan yang lebih serius dengan visi yang jelas.”

Aku meninggalkan semuanya seperti ini, memungkiri hatiku yang memang mencintainya merasa bersalah dengan Tuhan dan memutuskan mengejar karirku yang tidak pernah kuseriusi dari dulu.

Aku tersentak kaget, bayangan masa lalu cukup membuatku merenung panjang malam ini, sifat pelupa Revan juga belum hilang, entah sudah berapa kali ia kehilangan HP. Aku membentangkan sajadah memilih bermunajat kepada Tuhan yang sering aku lupakan, lupa bagaimana bersyukur atas segala nikmat yang Dia beri kepadaku selama ini, sembari meminta izin untuk menyatukan cinta kami lagi dalam ikatan suci yang kedua kalinya.

 

Hello, akhirnya Story Blog Tour dari OWOP satu kembali lagi. gua Uni Lilis dan ini merupakan episode ke 8, nah episode episode berikutnya ada di blog temen temen owop yang lain.

  1. Ketika Adiba Kembali – Tutut Laraswati
  2. Penarik Kerah Baju – Rifdah
  3. Revan Rivantyo – Rias
  4. Aku Masih Mencintaimu – Helmi Yani
  5. Merasakanmu Lewat Secangkir Cappucino – Apriliah Rahma
  6. Penyakit sialan! – Dara
  7. Perbuatan angin malam – Fauzan
  8.  Slide Masa Lalu  – Uni Lilis
  9. Selanjutnya di Blognya Wanna

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s